BAHING POMULLUM DIPENTASKAN DI LCAF#3



Pementasan Bahing Pomollum (Senandung Kehidupan) pada rangkaian acara Langkau Art Festival #3 yang digelar pada 24-26 September 2025

Pementasan ini berhasil menggugah penonton dalam gelaran pertunjukan sastra lisan karungut yang memadukan tradisi lisan Dayak Uud Danum Serawai - Ambalau, Kalimantan Barat dengan bahasa artistik kontemporer. Karya berdurasi 25 menit ini menjadi ruang perjumpaan antara suara leluhur dan generasi masa kini, antara petikan kecapi tradisional dan bunyi elektronik modern.
Tradisi lisan berbentuk sastra tak hanya soal mendengar namun kini menjadi tontonan jembatan masa lampau ke masa kini penuh kenangan warisan leluhur.
Pernah hilang namun hadir kembali memutuskan tembok batasan antar pelaku seni dan masyarakat lewat pertunjukan kolaboratif sastra lisan karungut yg dikemas apik oleh seniman Langkau Etnika didukung oleh Badan Bahasa .
Dikembangkan melalui riset lapangan berbasis etnografi dan kolaborasi dengan 12 orang seniman Kalimantan Barat, karya ini menampilkan hasil pendalaman atas tradisi Karungut, tembang, serta pituah-pituah lisan yang hidup dalam masyarakat Dayak. Salah satu bagian paling menyentuh adalah penggunaan rekaman video seorang kakek yang memainkan kecapi, yang kemudian berdialog dengan permainan live seniman muda di atas panggung — menciptakan momen emosional tentang warisan dan kebangkitan tradisi.
Para seniman yang terlibat tidak hanya tampil sebagai pemain, melainkan juga sebagai peneliti, perumus, dan penggagas artistik. Mereka bersama-sama menganalisis, mendiskusikan, dan mengolah data lapangan hingga lahir satu bentuk pertunjukan yang tidak hanya menampilkan bunyi, tetapi juga gagasan: bahwa tradisi adalah entitas hidup yang terus tumbuh dan bernegosiasi dengan zaman.
Dengan tata suara yang memadukan kecapi, bunyi tubuh, ambient, dan noise elektronik, Bahing Pomollum mengajak penonton merasakan perjalanan emosional dari hening, harmoni, benturan, hingga kebangkitan. Pementasan ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga pernyataan bahwa warisan lisan dapat dihadirkan kembali sebagai bentuk pengetahuan yang relevan di era modern.
Sebagaimana disampaikan oleh Billie Agrie Oktada, sutradara dan perumus artistik karya ini, “Tradisi tidak berhenti di masa lalu. Ia adalah percakapan yang selalu berlanjut selama samarnya masih ada dan ada yang mau mendengarnya.”
Sasaran dan tujuan dari program ini pun terjawab melalui 478 pasang mata menunjukan kekagumannya usai menyaksikan pertunjukan sastra lisan ini. Sajian utuh yang mengisahkan perjalanan hidup dr awal kelahiran hingga kematian lewat sastra lisan karungut Serawai-Ambalau Dayak Uut Danum kalimantan barat.


Foto : Tim Dokumentasi LCAF#3







Comments