Tema dan Gagasan Kuratorial
Dengan subtema “Rhizome dan Interkoneksi” serta “Konsumsi Ekologi Non-Utilitarian”, ART BORNEO 2025 mengajak publik dan seniman untuk merefleksikan keterhubungan sosial, budaya, dan ekologis yang tidak bersifat hierarkis. Seperti akar rimpang (rhizome) yang tumbuh menyebar tanpa pusat, pameran ini membangun jejaring seni yang hidup dan dinamis. Pameran ini menampilkan karya 32 seniman dari Indonesia (20 artist), Malaysia (6 artist), dan Brunei Darussalam (6 artist), dengan beberapa karya seperti lukisan, instalasi, patung, fotografi, film, riset, dan dokumenter, karya-karya tersebut dikurasi oleh:
● M. Faozi Yunanda (Indonesia)
● Catriona Maddock (Malaysia)
● Elroy Ramantan (Brunei Darussalam)
“Bala Dingan bukan sekadar tema, tapi prinsip yang kami jalankan—membangun hubungan yang saling menopang, menciptakan ruang bertumbuh yang tidak eksklusif dan tidak linier. Pameran ini adalah lanskap budaya yang bergerak dan berkembang bersama.” ungkap Kurator Indonesia, M. Faozi Yunanda,
Annisa Fitri Yusuf, Direktur ART BORNEO 2025, menambahkan : “Bala Dingan adalah upaya menyusun kembali jejaring seni Borneo—bukan sekadar pertemuan seniman, tapi perjumpaan pengalaman, pemikiran, dan kemungkinan masa depan. 16.415 pengunjung adalah bukti bahwa seni tetap relevan, dan koneksi lintas batas bisa tumbuh dari wilayah pinggiran.”
Rangkaian Program: Membuka Ruang Kolaborasi
Selama pelaksanaan, ART BORNEO menyuguhkan berbagai program interaktif dan partisipatif yang memperkuat makna “merajut jaringan seni”:
● Sarasehan ART BORNEO Forum temu pemikiran lintas negara tentang praktik seni dan strategi solidaritas budaya.
● Workshop Tata Kelola Seni Diskusi dan pelatihan manajemen seni berbasis komunitas dan kolektif.
● Workshop ECOPRINT Kolaborasi Imaji Rupa bersama masyarakat lokal tentang teknik pewarnaan alami ramah lingkungan.
● Workshop Operasi Plastik Kolaborasi bersama Susur Galur dengan pendekatan kritis terhadap konsumsi dan sampah plastik.
● Artist Tour Seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam saling mengunjungi studio dan karya lintas negara.
● Diskusi Budaya Bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVII Kalimantan Barat, membahas strategi pelestarian berbasis partisipatif.
● Diskusi Kolektif Berkesenian Dipandu Badan Musyawarah Kebudayaan Kalimantan Barat, mengeksplorasi potensi jejaring antar kolektif.
Pameran ditutup dengan pertunjukan musik DJ duduk dan performance art “KEJAK”, sebuah penutup simbolik yang merayakan keberanian ekspresi dan kebersamaan lintas DISIPLIN.
Salah satu pengunjung asal Kuching, Sonia Luhong, mengungkapkan pengalamannya:
“Saya merasa seperti pulang ke rumah, meskipun ini pertama kali saya ke Pontianak. Karya-karya di sini terasa dekat, menyentuh, dan membuat saya ingin terlibat lebih jauh dalam seni komunitas.”
Pameran yang sukses ini tidak akan mungkin terwujud tanpa dukungan dan kolaborasi yang luar biasa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbudristek), Dana Indonesiana, LPDP, Dekranasda Kalimantan Barat, serta para mitra dan kolaborator kami yang luar biasa: Emehdeyeh, Toko Kami, Lokale, Silang, Nasi Jalang, Borneo Bengkel, dan Sineas Khatulistiwa.
Kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah terlibat. Sampai jumpa di ART BORNEO selanjutnya—dengan akar yang lebih dalam, jejaring yang lebih luas, dan solidaritas yang semakin kuat.
Penutup: Dari Borneo, Untuk Dunia
ART BORNEO 2025 tidak hanya menjadi ruang presentasi seni, tetapi juga ruang pertemuan dan pertukaran lintas generasi, wilayah, dan praktik. Melalui semangat Bala Dingan, pameran ini membuktikan bahwa seni bisa menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan menjadi kekuatan bersama. Sampai jumpa di ART BORNEO berikutnya—dengan jejaring yang lebih luas, praktik yang lebih mendalam, dan solidaritas yang terus mengakar.
Text dan Foto : Art Borneo 2025 Team

Comments
Post a Comment